DAERAHRIAUROKAN HULU

Bupati Anton Saksikan Penabalan Sutan Mahmud dan Kebangkitan Raja Haiti di Taman Kota

Leadership.co.id Rokan Hulu | Momentum bersejarah mewarnai penguatan lembaga adat di Kabupaten Rokan Hulu. Prosesi penabalan Tengku Marcos dengan gelar Sutan Mahmud dan kebangkitan gelar Raja Haiti berlangsung khidmat di Taman Kota Pasir Pengaraian, *Rabu (15/7/2026)*.

Penabalan dipimpin langsung oleh Dipertuan Besar Raja Luhak Rambah, dr. H. Tengku Afrizal Dachlan, M.M. bergelar Sutan Zainal. Kegiatan tersebut turut disaksikan Bupati Rokan Hulu *Anton ST, MM*, Wakil Bupati H. Syafaruddin Poti, unsur Forkopimda, tokoh adat, ninik mamak, dan masyarakat.

Prosesi adat itu tidak hanya mengukuhkan pemangku gelar Sutan Mahmud, tetapi juga dirangkaikan dengan penabalan unsur Suku Nan Tujuh dan Napitu Huta. Momen paling menyita perhatian adalah munculnya kembali gelar Sutan Haiti atau Raja Haiti yang selama ratusan tahun tidak memiliki penerus yang ditabalkan secara resmi.

Raja Luhak Rambah, dr. H. Tengku Afrizal Dachlan menegaskan penabalan merupakan upaya menjaga marwah adat sekaligus memastikan kesinambungan kepemimpinan adat di Luhak Rambah.

Ia menjelaskan, Sutan Mahmud memiliki peran strategis sebagai mitra kerja Raja Luhak Rambah sekaligus penghubung bagi puak bangsawan, termasuk Napitu Huta, dalam menjaga tatanan adat turun-temurun.

“Setelah penabalan ini tidak ada lagi Sutan Mahmud yang lain. Gelar Sutan Mahmud hanya satu dan yang berhak menyandangnya adalah Tengku Marcos. Ke depan, hanya beliau yang memiliki kewenangan untuk melakukan penabalan sesuai ketentuan adat,” tegas Tengku Afrizal.

Ia berharap amanah tersebut dapat dijalankan dengan tanggung jawab, sehingga lembaga adat semakin menjadi perekat persatuan masyarakat dan menjaga nilai-nilai budaya Melayu.

Usai ditabalkan, *Tengku Marcos* menyampaikan syukur dan terima kasih kepada Raja Luhak Rambah serta LKA Luhak Rambah.
“Proses menuju penabalan ini cukup panjang. Alhamdulillah hari ini seluruh tahapan dapat diselesaikan dan saya resmi ditabalkan sebagai Sutan Mahmud. Amanah ini akan saya jalankan untuk memperkuat pelestarian adat dan menjaga warisan budaya bagi generasi mendatang,” ujarnya.

Sementara itu, kebangkitan gelar Sutan Haiti ditandai dengan penabalan *Beni Arif Nasution* sebagai Sutan Haiti atau Raja Haiti. Ia mengaku bersyukur garis kepemimpinan adat keluarga besar Mangaraja Kayo Huta Haiti akhirnya dapat dipulihkan.

“Atas nama keluarga besar Mangaraja Kayo Huta Haiti kami mengucapkan terima kasih kepada Raja Luhak Rambah dan Sutan Mahmud. Gelar ini sangat berharga bagi keluarga kami karena saya ditabalkan sebagai penerus dari garis keturunan Sutan Haiti,” katanya.

Rangkaian prosesi juga diisi pengukuhan para pucuk suku Huta Haiti. Di antaranya Endang Sunaryo bergelar Mangaraja Kayo sebagai Pucuk Suku Nasution Mangaraja Kayo, Samsul Bahri Nasution bergelar Mangaraja Huta Tinggi, Rifardi Nasution bergelar Ja Tombang, Maslan Hasibuan bergelar Ja Baumi, dan Ismsil Lubis bergelar Ja Pangulu.

Seluruh pucuk suku yang dikukuhkan menerima sertifikat sebagai bukti telah menjadi bagian struktur adat yang diakui resmi.

Kehadiran pemerintah daerah bersama para tokoh adat menjadi sinyal kuat bahwa pelestarian budaya dan kearifan lokal tetap menjadi bagian penting dalam pembangunan daerah. (Tim/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button